Beberapa waktu yang lalu gw nonton Discovery Channel dan sepertinya lagi ada program tematik khusus tentang negara tetangga kita dalam beberapa kali tayangan. Not bad, kemasannya keren, dan menarik ya selayaknya program-program yang tayang di Discovery Channel emang keren-keren pastinya (salah satu channel favorite gw!).
Hanya yang bikin gw kaget adalah di dalam salah satu tayangannya isinya mengenai Keris. Hmm, gw pikir Keris itu cuma ada di Indonesia, tapi ternyata sampai di negara tetangga kita juga punya. Mirip2 juga kaya Keris yang di Jawa, Keraton dsbnya. Dan selain itu, juga ada tayangan mengenai Batik juga loh…
Disitu juga ada interview pakar pembuat Keris. Yang dibahas juga lumayan menarik, bagaimana dia mendapatkan Keris itu, dan jenis-jenisnya serta cerita yang terkandung didalamnya. Lengkap dengan animasi 3D yang memukau sebagai ilustrasi pelengkap cerita.
Juga ada tayangan gimana cara mandiin Keris dengan berbagai macam jenis peralatannya. Tapi pastinya yang dipaparkan adalah hal yang berhubungan dengan cara pandang Discovery Channel, dimana air-air yang digunakan untuk memandikan (membersihkan) Keris itu mengandung zat-zat yang bisa membuat bahan dasar Keris itu (baja?) menjadi awet dan semakin bagus kelihatannya. Ilmiah dan modern, lebih masuk dengan logika sebagian besar penonton Discovery dan generasi muda saat ini.
Apakah ini untuk kesekian kalinya identitas kultur bangsa Indonesia diklaim oleh pihak lain atau emang ternyata disana juga ada Keris dengan segala macem tetek bengeknya yang mirip dengan di Indonesia, gw udah capek ngedengerin dan mempermasalahkannya. Males debat sana sini tanpa hasil. Yang lebih gw perhatiin disini adalah strategi kita yang kalah hebat dengan negara tetangga dalam rangka pencitraan jati diri bangsa di mata international.
Kenapa mereka bisa mendapat akses untuk menyebarkan informasi mengenai diri bangsanya, terlepas dari keaslian kontennya atau bukan. Tapi yang pasti mereka telah berhasil menggambarkan kebudayaan bangsanya dengan menarik melalui saluran televisi kelas A yang ditonton oleh masyarakat internasional. Mereka bisa mengemas segala macam bentuk kebudayaan dalam bentuk yang menarik dan tidak membosankan.
Sedangkan Indonesia di dalam tayangan televisi internasional cuma sering muncul ketika ada bom yang meledak dan masalah teroris. Ironis.
Gw sangat hobi dengan culture dunia, dan salah satu tempat untuk melihat kebudayaan setempat adalah dengan datang ke museum.
Kalau boleh gw bandingin museum di Indonesia dengan museum di negara tetangga, sangat jauh tertinggal.
Dari cara mendisplay koleksinya, cerita-ceritanya dan juga events2nya pasti lebih menarik.
Di Indonesia kalau dengar kata museum kesan pertama yang muncul adalah berdebu, panas, tua dan membosankan. Meskipun kadang unsur seperti itu memberi efek flashback dan mistik yang lebih dibanding dengan ruangan dan display yang modern. Tapi ya balik lagi, berapa banyak orang Indonesia yang bisa mengapresiasi koleksi museumnya dengan tulus?
Apakah kalau kita ke Bali kita juga senang untuk meluangkan waktu melihat tari pendet, atau malah kita lebih senang santai di villa mewah dan tempat-tempat yang sedang hype pada saat itu, yang sebagian besar dikelola oleh barat?
Kalau ada pertunjukan tari/wayang di TV bukannya kita langsung mengganti channel tersebut dengan channel lain yang lebih menarik?
Tapi kenapa ketika kita sadar kalau hal yang jarang/tidak suka kita perhatikan itu diklaim oleh pihak lain langsung teriak-teriak?
Mungkin sekarang sudah waktunya bagi bangsa kita untuk berbenah diri membereskan masalah kebudayaan kita ini.
Kalau gw pikir sih, yang namanya budaya, seni atau apapun itu enggak mesti dikemas seperti yang itu-itu aja kaya di kartu pos ataupun katalog tour n travel.
Kita juga enggak harus punya “selera bule” untuk suka dengan kebudayaan sendiri.
Terus kenapa juga muncul istilah “selera bule” untuk beberapa hasil/produk kebudayaan negeri sendiri. Apakah “selera lokal” sudah begitu tingginya sehingga tidak mau sedikitpun melihat ke jati diri bangsa?
Sampe-sampe di luar negri yang memperkenalkan gamelan, pencak silat dsbnya adalah orang bule, bukan orang kita sendiri… hmmm..
Mungkin kita yang muda-muda ini punya cara lain untuk mengemas kebudayaan sehingga bisa disukai oleh generasi yang lebih modern dan kritis cara pikirnya.
Supaya kita-kita ini dan sebagian besar orang Indonesia lainnya ini menggunakan ciri khas kebudayaan kita dalam kehidupan sehari-hari sehingga benar-benar nempel sebagai citra diri bangsa. Dengan begitu kan pihak lain kalau mau mengklaim jadi mikir karena secara otomatis orang asing pun akan tau kalau itu budaya milik bangsa mana….
Yuk mikir yuk, daripada ribut-ribut ngehujat sana sini mendingan energinya kita pake buat puter otak supaya ada jalan keluarnya….

hmmm… I”ve been trying to understand why it is such an issue about Malaysians claiming Indo’’s culture and heritage as theirs…
don”t we all know that a vast majority of malays in Malaysia are originally from Indonesia??? eventhough the malays call themselves malays, but in Malaysia, these people are a mixture of jawa, minangkabau, aceh, menado, batak, bugis, etc etc…
so is it any surprise that these Indonesia originated people claimed the culture theirs when throughout history it has always been their culture which has been passed down from their ancestors over the time???
I apologize if I offend anybody… but the way I look at it is the culture doesn”t belong to a particular country, but rather a particular group of people no matter which part of the world they reside.
an Indo who’’s been staying for generations in the western world would still consider gamelan, kris, etc as their culture… so would you say that juz becoz they have become Americans they can never claim the cultural things mentioned above as theirs???
please seriously think about this…. in fact a huge number of malaysian malays still have relatives in Indo… we are the same people!!!
Tianz tuh klo di liat2 senyumnya mirip ma lee min hoo…
hahaha……..
itu yang artis korea selatan yang agy naik daun..
bedanya…..
tianz = senior
minho = juniornya…….
hahahahaha…….
Yup. Seharusnya kita yang berkaca melihat bagaimana respon kita selama ini terhadap budaya sendiri. Gw sendiri merasa sedih ada sloga “I hate Malaysia”. Apakah ngajak benci bangsa lain itu sebagai cara menunjukan kekuatan kita. “Hate” bukan solusi tetapi “Introspect” itu solusi! Indonesia Bangkit! salam kenal! Jesus Love U!
hallo tian….
seru banget nih….sekarang mulai dari diri kita masing2 untuk menjaga semua yang kita punya
ga kebayang gimana hidup generassi2 dibawah kita kalau kejadiannya seperti itu….gimana mereka yah 
ayoooo…..majukan indonesia…kita pasti bisa
tian selain sibuk sama penemuan barunya, sibuk apalagi…dah ada film atau sinetron baru belum..???
Hezz: My point exactly !
Tian: Msh mencari filem RASA. Gk ada di Malayisia nih. Di Indo sudah keluar DVD/VCDnya gk? Any tips on how to get hold of that movie?
ass…
k’ aku makin ngefans dech ma k2k’… dr tulisan2 k2k’ yg udh sering bgt aku baca tercermin bgt kalo k2k’ tu punya pemikiran yg intelek bgt! k’ bukannya aku mau carmuk tp itu ju2r pndapat aku ttg sisi intelektual k2k yg TOP BGT.. K’ rjin2 nge pst tulisan2 k2k’ ya.. aku slalu nungguin lho..
wass..
emang dh gw demen liat wayang. urusan klaim mengklaim it’s iyuuuuhhhhh…..
salam…yang sebenarnya kebudayaan itu sememangnya sudah berada disini dan diamalkan sejak turun temurun lagi..jadi tidak timbul isu klaim-mengklaim kerana sememangnya indo-malay mempunyai akar sejarah yang panjang..lebih lama drpd kewujudan indo-malay itu sendiri..harap rakyat indo faham ye?
coba datang ke museum bank mandiri di depan stasiun Kota. satu2nya museum yg menurut gw cukup terurus dan keren. bahkan petugasnya bener2 niat ngebersihin (baca: ngepel) lantai museum pake bahan pembersih khusus.
testing only
Kok pas jamannya East Timor dirusak A*******A kita nggak komplain?
tian, gmn rasanya maen pilm brg artis negara tetangga???